
Kenangan
bersama kakek sangat berkesan dan penuh makna, walaupun semua itu terasa teramat singkat. Kakek adalah seorang guru matematika yang bersahaja dengan delapan
orang anak. Kakek lahir pada tahun 1914, 13 tahun lebih muda dari Ir. Soekarno,
Presiden pertama Republik Indonesia. Masa kecil kakek hingga remaja masih dalam
era penjajahan Belanda, jaman perang, jaman susah, jaman ubi dan jaman penuh
perjuangan.
Hal
yang paling kuingat tentang kakek adalah mencongak atau menghitung cepat di
luar kepala berdasarkan ingatan, jadi yang ditulis di buku hanyalah hasilnya
saja. Saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar (SD), kakek berusia 77 tahun. Walaupun
aku bertemu kakek ketika kakek sudah lanjut usia, tapi semangat dan jiwa
pendidik beliau tetap terpancar dan tidak pudar. Hal ini terlihat dari
kenangan-kenangan bersama kakek yang sebagian besar berupa kegiatan mencongak. Aku
selalu menikmati soal-soal mencongak yang diberikan kakek. Kakek sendiri yang
menyiapkan buku tulis untuk mencongak. Buku itu bersampul hijau polos dengan
initial namaku, tulisan tangan kakek.
Entah
kenapa, aku sangat bahagia dengan momen mencongak itu, semua terasa tanpa beban,
walaupun aku harus berpikir keras dan cepat, mungkin karena pola pengajaran
kakek yang ngemong, penuh perhatian
dan kesabaran, namun tetap tegas. Di usianya yang 77 tahun, kakek sendiri yang mendiktekan
soal-soal mencongak. Aku selalu teringat momen berharga itu, karena selalu
memotifasiku untuk berkonsentrasi, berpikir cepat, namun penuh ketenangan.
Kakek juga selalu memotifasiku untuk berprestasi di sekolah.
Figur
kakek adalah figur guru kebanyakan, dengan sepeda ontel, peci hitam dan rumah
sederhana. Tidak ada sepeda motor dan tidak ada kompor minyak tanah di rumah
kakek, hanya kompor-kompor tradisional dengan kayu bakar, atap rumah pun tidak
ber-asbes dan air pun harus menimba dari sumur. Kondisi rumah kakek yang terletak
di Tulungagung, dekat kota peristirahatan terakhir Bung Karno, Blitar, Jawa
Timur ini sedikit bertolak belakang dengan rumah keluargaku di kota Malang,
Jawa Timur. Bapakku bekerja di Pabrik Gula sebagai mandor perkebunan tebu dan
kami tinggal di rumah dinas peninggalan Belanda (biasa disebut rumah loji) yang
sangat luas dengan bangunan yang kokoh. Kami hidup lebih dari cukup, karena
ibuku juga bekerja sebagai bidan, profesi yang menurutku sangat mulia, membantu
para ibu dan calon ibu untuk melahirkan. Walaupun kondisi rumah kakek dan rumah
keluargaku cukup berbeda, namun kesederhaan rumah kakek selalu membuatku rindu.
Penghasilan
kakek sebagai guru tentu hanya sekedar cukup, namun beliau berhasil membesarkan
delapan anak tanpa kekurangan. Dan yang membuatku kagum adalah semangat dan
kerja keras kakek hingga akhirnya dari
delapan anak, empat anak telah mengikuti jejak beliau untuk berprofesi sebagai
guru, bahkan tiga diantaranya telah menjadi kepala sekolah. Sekolah bagi kakek adalah keharusan, dan
pendidikan adalah kebutuhan primer. Aku ingat ketika ibuku bercerita
tentang pengorbanan kakek untuk menyekolahkan ibuku di Akademi Kebidanan. Ketika
itu, biaya masuk Akademi Kebidanan sangat tinggi, karena masih jarang siswanya.
Namun melihat tekad ibuku yang kuat dan kesungguhan hatinya, kakek pun
berdiskusi panjang dengan nenek dan akhirnya setuju untuk menjual sebidang
sawah satu-satunya untuk biaya sekolah ibuku. Ibuku selalu terharu jika
bercerita tentang pengorbanan kakek demi sekolah anak-anaknya.
Kini
kakek telah tiada, tepatnya enam belas tahun yang lalu, di usia 82 tahun. Namun
kenangan tentang semangat menuntut ilmu,
keikhlasan, kesabaran, wibawa, ketegasan, kesungguhan hati dan kesahajaan
beliau adalah warisan yang tidak
ternilai dan akan selalu kuteladani. Hal ini pulalah yang selalu menyemangatiku
untuk tekun belajar dan semangat menuntut ilmu, walaupun sekolah dan rumahku
jaraknya cukup jauh. Jarak rumah dan
sekolahku adalah 18 kilometer, aku harus bangun pagi untuk menunggu bis sekolah
yang setiap hari menjemput pukul 05.30.
Bis sekolah ini adalah fasilitas dari Pabrik Gula tempat bapakku
bekerja. Tentu saja tidak ada pabrik gula di tengah kota, jadi kami harus rela
menempuh jarak 36 km tiap hari demi sekolah di kota.
Bangku Sekolah
Selain
kakek, orang tua juga sangat berperan dalam pendidikanku. Ibu dan bapakku
memiliki latar belakang yang berbeda. Keluarga ibu adalah keluarga pendidik
yang bersahaja, dimana guru dan kepala sekolah adalah profesi dan pilihan
hidup, sedangkan keluarga bapak sangat beragam, dari segi kultur dan agama.
Keluarga bapak sebagian besar adalah pengusaha di bidang perkebunan yang
sukses, dan hal ini sangat mempengaruhi pola pendidikan yang dipilih bapak
untuk anak-anaknya.
Bapakku sangat disipilin. Aku ingat
ketika aku ijin bermain ke rumah tetangga sepulang sekolah, bapakku bertanya:
“ Mau main sampe jam brapa, Nduk?”
“Jam dua, Pak”
“Baik, jangan sampai telat ya,
biasakan tepat waktu, telat itu
memalukan”
Aku pun langsung bermain ke rumah
tetangga. Asik sekali aku bermain bersama teman-temanku, memanjat pohon jambu,
bermain petak umpet, sampai akhirnya keasikan dan waktu menunjukkan pukul 14.15.
Aku panik, lalu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, pintu sudah terkunci
semua. Aku mengetok berulang-ulang kali, namun tak ada yang membukakan pintu. Aku
mengetok sampe kelelahan. Bisa dibayangkan daun pintu rumah peninggalan Belanda
yang sangat tebal kayunya, kuketok dengan tanganku yang mungil. Lebih dari 30
menit aku berdiri di depan pintu rumah, sampe akhirnya aku lemas tertunduk dan
menangis. Tidak lama kemudian bapakkku membukakan pintu rumah, aku langsung
berlari memeluk bapak sambil tetap menangis.
“ Bapak…, kenapa pintunya dikunci?”
“Kan bapak sudah bilang, kalau janji
pulang jam 2 ya harus ditepati,
jangan sampe bikin malu gara-gara
telat. Ngerti nduk?”
“Iya Pak, Maaf”
“Tidak boleh diulangi kesalahan
seperti ini ya!”
“Iya Pak, saya janji”
Sejak saat itu aku takut sekali
terlambat, aku selalu memperhatikan waktu dalam segala kegiatan. Aku bersyukur
bapakku mengajarkan disiplin sejak aku kecil.
Ketika Sekolah Dasar, bapak memasukkan
aku dan kakakku ke sekolah swasta. Tata tertib sekolah dan guru-gurunya yang
sangat disipilin telah membentuk karakterku, sehingga aku mampu tumbuh menjadi
individu yang mandiri dan bertanggung jawab.
Prestasiku
di sekolah cukup bagus dan ketika akhirnya aku menginjak kelas 6 SD, nilai
Ujian Nasional yang kuraih cukup memuaskan sehingga aku bisa lulus dan masuk ke
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri terbaik. Namun, justru inilah titik balik
perubahan karakterku sebagai siswa. Aku sempat mengalami shock dan nilai-nilai pelajaranku anjlok jauh sekali. Aku kaget
dengan sistem Sekolah Negeri, dimana kelasnya banyak sekali dan jumlah muridnya
pun banyak. Kelas 1 SMP, jumlahnya ada 8, dari Kelas 1 A, hingga Kelas 1 H, dan
setiap kelas ada sekitar 45 siswa. Ini sungguh berbeda dengan kondisi sekolah
swasta yang kukenyam selama enam tahun sebelumnya. Kelas di Sekolah Negeri
begitu riuh, hingga aku merasa kurang diperhatikan oleh guru. Sistem sekolahnya
pun membuat aku sedikit kebingungan, karena waktu kelas 1 SMP, aku diharuskan
“masuk siang”, karena kelasnya dipakai oleh siswa kelas 3 SMP di pagi hari. Kebiasaanku
yang terpola untuk bangun pukul 5 pagi dan menunggu bis sekolah di pagi hari
langsung berubah. Aku sempat kehilangan fokus atas sistem belajar yang masuk
siang dan pulang sore, serta harus berbagi kelas dengan siswa kelas 3. Mata
pelajaran pun bertambah drastis. Pada tahun 1996, kelas 1 SMP, mata pelajaran
dasar di SD ditambahkan dengan Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Geografi
dan Akuntansi. Kadang aku merasa hanya menghafal, karena pelajaran diberikan
penuh dengan teori dan sedikit praktek. Namun walaupun kondisi sekolah sungguh
baru dan di luar dugaan, aku tidak berlarut-larut dan berusaha sekuat tenaga
untuk menyesuaikan diri. Ibu dan bapak selalu menyemangatiku untuk tetap rajin
belajar dan semangat, hingga akhirnya tiga tahun kulalui dengan lancar dan
kembali lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan sehingga aku bisa memilih
Sekolah Menengah Utama (SMU) Negeri favorit mana pun.
Ketika
menginjak kelas 3 SMU, aku memutuskan untuk masuk kelas IPA, dan disinilah
nasib dan takdir mulai berbicara. Kelas 3 SMU sebenarnya adalah masa yang
paling menentukan, karena kita diharuskan memilih jurusan antara IPA atau IPS
dan mulai memilih Perguruan Tinggi serta jurusan kuliah yang diminati. Banyak
siswa yang salah memilih jurusan, sehingga akhirnya setengah hati kuliah.
Banyak Perguruan Tinggi juga mulai menawarkan jalur khusus atau PMDK kepada
siswa kelas 3 SMU. Sebagai pelajar di
kota kecil, impianku pun tidak muluk-muluk, hanya ingin masuk Perguruan Tinggi
Negeri. Saat itu aku ingin sekali masuk jurusan Kedokteran Gigi, Universitas
Airlangga, Surabaya, namun kenyataan berkata lain. Dicatur wulan ketiga,
tepatnya bulan April, tiba-tiba ada lowongan beasiswa untuk S1 di negeri Belanda.
Persyaratan untuk memperoleh beasiswa tersebut tidak terlalu rumit, hanya foto
kopi raport dari kelas 1 SMU, hasil tes TOEFL dan mengikuti tes tulis serta tes
wawancara. Tanpa sepengetahuan orang tuaku, aku iseng-iseng mendaftar. AKu pun berangkat
ke tempat tes tulis dan tes wawancara di sebuah Hotel di kota Malang. Tanpa
diduga, para pewancara adalah para dosen dan ketua jurusan yang langsung datang
dari negeri Belanda.
Aku
gugup, namun aku ingat nasehat almarhum
kakek untuk tetap konsentrasi, tenang dan melakukan yang terbaik. Ketika tiba
saatnya untuk wawancara, kakiku gemetaran, tanganku dingin dan otakku dipaksa
bekerja cepat untuk menangkap setiap pertanyaan yang diajukan dalam Bahasa
Inggris namun logat Belanda. Dalam kegugupanku, aku tiba-tiba teringat cerita
ibuku tentang sahabat perempuannya di waktu kecil. Ibuku selalu bangga atas
sahabatnya itu, namanya Tante Keppi. Mereka bersahabat sejak SMP di
Tulungagung, mereka berdua selalu
belajar dan bermain bersama. Persahabatan ibu dan Tante Keppi sangat erat,
hingga akhirnya mereka berpisah ketika ibuku melanjutkan ke Akademi Kebidanan
dan Tante Keppi melanjutkan pendidikan ke kota Malang. Tuhan akhirnya
mempertemukan mereka berdua kembali di Kota Malang ketika keduanya sudah
sama-sama menikah dan menetap di kota Malang. Ibu menjadi bidan dan Tante Keppi
menjadi dosen di Universitas Brawijaya. Ketika manjalani karir sebagai dosen,
Tante Keppi mendapatkan beasiswa untuk S2 di Belanda, ibuku bangga luar biasa,
walaupun mereka harus berpisah selama beberapa tahun. Kisah tentang
keberhasilan Tante Keppi ini selalu ibu ceritakan kepadaku untuk memotifasi
belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin. Cerita ini juga yang membuatku
optimis.
Dosen-dosen
dari Belanda itu melihat dan membolak-balik hasil tes tulisku, dan mulai
melontarkan pertanyaan dalam Bahasa Inggris, namun tetap dengan logat Meneer dan Mevrouw. Penuh semangat aku
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tidak terasa 30 menit telah berlalu
dan wawancara pun selesai. Aku diminta untuk menunggu pengumuman 2 minggu lagi.
Aku merasa lega dan tidak berharap banyak, karena sebenarnya aku hanya ingin mencoba.
Seminggu kemudian, aku pergi bersekolah
seperti biasa. Aku berjalan dari gerbang sekolah menuju lantai dua. Tiba-tiba
teman-temanku meneriakiku:
“Oeeeeey, yang mau kuliah di Belandaaaaaaa,
oleh-oleh yaaaaaaa”.
Aku kaget dan bingung.
“Oeeeeeey, nitip keju, klompen, coklat, sama
kaos-kaos Amsterdaaaaaaaaam”.
Aku bingung dan bertanya-tanya sambil
berjalan tenang ke arah kelasku yang ada di lantai 2. Sambil diteriaki oleh
teman-teman, aku berusaha mencari tau penyebab tingkah laku aneh teman-temanku.
Ternyata mereka mengerubungi hasil tes beasiswa untuk kuliah di Belanda yang
tertempel di dinding kelas, dan…..namaku tertulis disitu. Aku kaget luar biasa,
aku bingung.. bagaimana mungkin..aku?? aku?? Kuliah di Belanda? Sendirian di
negeri orang? Teman-temanku ramai sekali dan menggoda-goda aku, aku sendiri
bingung harus bereaksi apa, bapak ibuku saja tidak tahu.
Pulang sekolah, aku mencari waktu yang
tepat untuk berbicara dengan bapak dan ibu. Aku duduk pelan-pelan mendekati
mereka di ruang tengah. Akhirnya aku buka suara dengan lirih.
“ Pak…Bu.. saya kemaren iseng-iseng
daftar kuliah, tapi beasiswa”.
Bapak menjawab, “Terus, ada yang cocok
jurusannya? Kamu sudah mantep milih Universitas apa? Jangan sampe salah pilih.
Harus sesuai dengan keinginanmu lho. Jangan ikut-ikutan temen”.
“Ehmmm, yang beasiswa jurusannya terbatas, tapi
ndak kuliah di Malang Pak, kuliahnya di luar negeri, di Belanda”, aku
menjelaskan langsung tanpa basa-basi, tapi tangan dan kakiku bergetar. Ibuku
langsung kaget.
“Lho nduk, di Belanda? Kok jauh to?
Informasinya dari mana beasiswa itu?”.
“Anu Buk..saya dah ketrima, udah
daftar, udah tes kemaren, terus dapet surat penerimaan ini Bu.”
Aku menyerahkan Acceptance Letter kepada Ibuku. Bapak dan Ibuku kaget, namun
membaca surat itu dengan penuh raut kebanggaan.
“Oalah nduk nduk…Ibu cuman bisa berdoa
yang terbaik untuk kamu, kalo kuliah di Belanda sudah jadi keinginanmu, ya
Bapak dan Ibu hanya bisa mendukung.”
Seketika aku mentitikkan air mata di
pangkuan Ibu, hatiku berdegub kencang, tubuhku gemetaran, aku peluk Ibu dan Ibu
mencium pipiku.
“Wis
nduk, ndak usah banyak dipikir, sekarang harus tetap fokus, sekolah tinggal 3
bulan lagi, kamu harus lulus SMA dengan nilai yang baik, jangan sampai
mengecewakan. Bapak akan membantu persiapan-persiapan sebelum keberangkatanmu
bulan Agustus.”
Merantau
Bulan
Agustus 2002, aku berangkat ke Belanda dari Bandara Juanda, Surabaya. Hampir
seluruh keluarga ikut mengantar, sungguh sangat mengharukan. Ini pertama kali
aku naik pesawat terbang, pertama kali aku berpisah dari keluarga dalam waktu
yang lama. Sama sekali tak terbayang bagaimana kehidupan di luar negeri, di
benua Eropa. Yang terbayang hanyalah wajah bapakku yang telah berjuang keras
untuk membiayai pasportku, tiket pesawatku, biaya apartemen dan uang saku untuk
6 bulan pertama di kota Amsterdam. Beasiswa yang diberikan murni biaya
pendidikan saja, biaya hidup tetap ditanggung oleh mahasiswa. Mungkin karena
ini adalah S1, waktunya 4 tahun, kalau beasiswa S2, sebagian besar beasiswanya
penuh sampai biaya hidup, karena waktunya hanya 1,5 -2 tahun. Aku pun bertekad
untuk kerja paruh waktu untuk menutupi biaya apartemen, transportasi dan makan
sehari-hari. Alhamdulillah, selama di Amsterdam, aku tidak pernah kekurangan
apa pun, selalu cukup, walaupun Bapak dan Ibu sudah tidak lagi mengirimkan uang.
Masa
kuliah yang kulalui cukup menyenangkan, dimana teori selalu diseimbangkan
dengan praktek. Mahasiswa dipaksa berpikir kritis dan langsung terjun ke
masyarakat/ dunia kerja. Setiap term,
mahasiswa selalu dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan proyek yang
berbeda-beda, hal ini mengajarkan pentingnya team work dan toleransi dalam kesuksesan sebuah proyek. Kami pun
dituntut untuk mepresentasikan output proyek
kami di ruang auditorium di depan beberapa dosen, jadi kami tidak boleh malu
dan harus percaya diri. Hari-hari kulalui dengan kuliah, kerja paruh waktu dan
sesekali berkumpul dengan mahasiswa sesama perantau dari Indonesia.
Di
semester 3, kami sudah harus memilih mata kuliah-mata kuliah yang diminati
sesuai profesi yang nanti diinginkan, karena di semester 5, kami diharuskan
magang atau melakukan internship
secara full-time, minimal satu
semester dan maksimal dua semester. Magang bisa dilakukan di Negara mana pun,
jadi kami sudah diajarkan membuat Curicullum
Vitae (CV) sejak semester 3, dan siap mendistribusikan CV tersebut ke
perusahaan-perusahaan multinasional di seluruh dunia di semester 4. Pertengahan
semester 4, teman-teman sudah ada yang mendapat jawaban dari perusahaan tertentu
untuk memulai magang di semester 5. Aku pun berjuang menyebarkan CV ke
perusahaan dan badan Internasional di seluruh dunia. Sudah puluhan CV yang
kukirim, sampai akhirnya pada bulan Mei 2004, aku mendapat email dari sebuah
badan Internasional di Jakarta yang menyatakan bahwa mereka menerimaku sebagai
mahasiswa magang untuk membantu di kantor mereka selama 6 bulan. Walaupun hanya
magang, aku bahagia bukan main, bekerja di badan Internasional adalah impianku,
dan ini di Jakarta, berarti aku “Pulang Kampuuuuuuuuung!!”
Pengalaman
magang di badan Internasional sungguh sangat berharga dan berpengaruh pada pekerjaanku. Setelah
lulus S1, aku langsung mencari kerja, melamar dan interview kesana kemari. Boleh dibilang sejak wisuda, aku hanya
menganggur satu bulan karena langsung mendapat panggilan interview dan tidak
lama kemudian langsung diterima kerja di badan Internasional juga. Pekerjaanku
ini bertahan sampai detik ini, sudah hampir 5 tahun. Aku percaya, pekerjaan
yang kuperoleh 5 tahun lalu ini tidak lepas dari doa-doa bapak ibuku. Aku
bersyukur dengan segala kemudahan yang kuperoleh.
Disisi
lain, teman-teman sebayaku yang lulus kuliah masih harus berjuang
berbulan-bulan, bahkan sampai lebih dari satu tahun untuk mendapatkan
perkerjaan yang layak. Gaji yang mereka terima pun rata-rata hanya sekedar
untuk makan dan transport sehari-hari. Kadang aku sedih sakali melihat
kenyataan para lulusan S1 yang menganggur, lontang-lantung kesana kemari, kongkow sana sini, kadang bekerja tapi
tak sesuai hati nurani. Sungguh miris hati ini rasanya. Apa yang salah
sebenarnya pada pola pendidikan kita? Sesungguhnya, kunci dari masalah dari
kebanyakan lulusan S1 adalah mereka tidak siap kerja, tidak siap pakai karena
tidak berpengalaman. Minimum 4 tahun mereka habiskan untuk belajar “teori”,
porsi praktek dan terjun ke dunia kerja langsung sangat minim. Kalaupun mereka
diberikan masa magang, jarang yang “full
time” , sehingga mereka tidak terlatih untuk berhadapan langsung dengan
dunia kerja yang sebenar-benarnya. Kadang mereka hanya berlomba-lomba
mendapatkan IPK yang bagus, dan soal-soal ujian pun sebagian besar teoritis,
sedikit sekali porsi yang diberikan untuk “ujian praktek”.
Bahkan di usia 18-19
tahun, setelah 12 tahun usia ditempuh untuk SD, SMP, SMA, mahasiswa
Indonesia jarang diberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat, karena sebagian besar hanya
menghafalkan saja, jika jawaban yang diberikan pada soal ujian tidak sama
persis dengan text book yang
diajarkan, maka nilainya akan berkurang.
Sulit untuk menjadi kreatif, karena selalu dibatasi oleh “nilai”, jawaban
berbeda beberapa kata saja sudah dikurangi nilainya. Kadang kala mereka sekolah
dan kuliah hanya karena keharusan, bukan karena ingin dan cinta menuntut ilmu. Keluarga
dan perilaku guru/dosen juga menjadi faktor penting dalam pendidikan pelajar di
Indonesia. Jika anak “dibatasi” kreatifitasnya di sekolah, sudah menjadi
tanggung jawab orang tua untuk selalu menggali minat anak, sehingga anak
tersebut akhirnya bisa “ahli” dalam satu atau beberapa bidang. Hubungan antara
siswa dengan guru, mahasiswa dengan dosen juga berpengaruh atas minta belajar. Keterbukaan
dan seni mengajar yang fun akan
memberikan segi positif terhadap daya serap dalam belajar.
Aku
bersyukur lahir di tengah keluarga pendidik yang sadar betul makna pentingnya
pendidikan. Tidak harus bergelimang harta untuk bisa sekolah yang bagus, yang
terpenting adalah kesungguhan hati, tekad kuat dan ketekunan dalam menuntut
ilmu. Aku ingin setelah membaca kisah ini, anak-anak Indonesia semakin
bersemangat dalam belajar dan menuntut ilmu, karena pendidikan yang bagus
adalah investasi di masa depan. Anak-anak Indonesia pun selayaknya menghargai
jerih payah orang tua yang telah menyekolahkan mereka. Karena
pendidikan adalah penerang masa depan. Aku ingin mahasiswa Indonesia, pelajar
Indonesia, anak-anak Indonesia mampu menjadi generasi yang kreatif dan bervisi ke
depan.
Terima kasih kakek guru, sang pendidik
sejati, atas ajaran mengenai ketegasan, berpikir cepat, fokus dan tetap tenang.
Terima kasih bapak atas dasar
kedisplinan dan optimisme, yang kau tanamkan dan atas jerih payah
memberangkatkanku menggapai mimpi untuk kuliah di luar negeri.
Terima kasih ibu atas kesabaranmu,
kasih sayangmu, kelembutanmu dan kisah-kisah inspiratif yang selalu kau
bisikkan padakku.
Beristirahatlah dengan tenang di surga
kakek, bapak dan ibu.
Walaupun kehilangan kalian bertiga sungguh
berat bagiku, namun semangat, petuah bijak dan keteguhan hati yang kalian
ajarkan akan selalu kuteladani dan kutularkan pada anak-anakku kelak. Terima
kasih juga kepada Tante Keppi, sahabat karib ibuku, yang kini telah menjadi
seorang Professor. Beliau adalah inspirasi sejati atas kecintaan pada ilmu dan
dunia pendidikan. Jenjang demi jenjang beliau lalui, dari S2, S3 hingga
akhirnya menjadi Proffesor. Beliau sangat kehilangan ketika ibuku meninggal
dunia akibat gagal ginjal. Ibuku tak kuasa menahan sakitnya cuci darah dan
akhirnya dipanggil Tuhan pada tanggal 18 Januari 2008. Ini adalah sepenggal
puisi yang ditulis Proffesor Keppi untuk almarhumah ibuku:
Kenangan Masa Remaja yang Ceria
Hari ini usiaku genap lima puluh tiga
tahun
Empat puluh yang lalu kau
meninggalkanku
Empat puluh tahun yang lalu kita
bertemu
Berkenalan, bersahabat
Remaja yang jelita
Remaja yang ceria
Remaja berhidung India
Remaja besepeda
Remaja dengan rambut dikepang dua.
Aku
dan kamu datang dari keluarga serupa
Keluarga
guru yang arif dan sederhana
Sekolah
dan menuntut ilmu
Itulah
yang mengikat persahabatan kita.
Masih
selalu teringat ketika kita belajar berdua,
di
rumah, di dapur, di pinggir Sungai Berantas,
Sungguh
Indah sahabat
Kemudian kita berpisah jalan sementara
Sampai kemudian bersatu lagi di Kota
Malang
Kau menjadi dewasa sebagai seorang
Bidan
Saya menjadi guru di Unversitas
Brawijaya
Siapa yang tidak terluka,
Ketika sahabat tercinta tiba-tiba
meninggalkan saya
Sahabat yang cantik lahir bantin itu
Telah pergi menghadap yang kuasa
Empat puluh hari yang lalu..
Langit mendung, guyuran hujan,
pertanda alam yang duka
Selamat jalan sahabat,
Dihatiku kamu masih ada,
Kamu tidak akan pernah pergi dari
ingatan saya
Gusti Alloh lebih sayang kamu
Tuhan lebih cinta kamu
Selamat jalan sayang
Pulanglah ke rahmatullah dengan damai
Bahagialah di alam kelanggengan
Innalillahi Wainnalillahi Rojiun..